MediasaranaKaltim.id – Tiongkok, Di usia yang masih terbilang muda, 30 tahun, Zhu Zijie telah menorehkan prestasi gemilang di dunia fisika kuantum. Setelah delapan tahun menimba ilmu dan meneliti di Eropa, ilmuwan berbakat ini memutuskan pulang ke Tiongkok untuk mengabdi sebagai profesor madya di Universitas Fudan.
Keputusan besar ini diambil setelah ia meninggalkan ETH Zurich—salah satu kampus terbaik dunia—pada Maret lalu. Langkahnya bukan sekadar pindah tempat, melainkan membawa misi besar: menciptakan terobosan baru di bidang fisika kuantum di tanah airnya.
“Saya ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan di Tiongkok,” ungkap Zhu. Dorongan itu bukan hanya ambisi akademik, tetapi juga panggilan untuk berkontribusi bagi negaranya.
Sejak muda, kecintaan Zhu pada fisika sudah terlihat. Ia tumbuh dengan membaca karya-karya tentang teori Hukum Newton dan Teori Relativitas. Bakatnya semakin terasah saat SMA, hingga berhasil meraih juara dalam kompetisi fisika tingkat provinsi.
Perjalanan akademisnya berlanjut di Universitas Peking, sebelum akhirnya melesat ke panggung global lewat riset di Eropa. Fokus penelitiannya pada simulasi dan komputasi kuantum menggunakan atom ultra dingin—teknologi yang diyakini menjadi kunci masa depan komputasi.
Prestasinya pun mencengangkan. Sebelum genap 30 tahun, Zhu telah menerbitkan karya ilmiah di jurnal-jurnal paling bergengsi seperti Science, Nature Physics, dan Physical Review X. Bahkan, riset terbarunya juga telah diterima di jurnal Nature.
Salah satu terobosan pentingnya mengungkap bagaimana partikel bergerak dalam “rel kuantum”—penemuan yang membuka jalan untuk memahami superkonduktivitas suhu tinggi dan mempercepat pengembangan teknologi kuantum.
Kini, melalui program Xianghui di Universitas Fudan, Zhu membawa harapan baru. Ia menargetkan solusi atas tantangan besar dalam fisika, termasuk memahami model fermion Hubbard—kunci misteri superkonduktivitas.
Kembalinya Zhu menjadi simbol bangkitnya ilmuwan muda Tiongkok di kancah global. Dengan semangat dan visinya, masa depan teknologi kuantum tampak semakin dekat—dan mungkin, akan lahir dari negeri sendiri.(Idner)





