Saat Al-Qur’an Bertemu Keberagaman, MTQ ke-16 Kecamatan Anggana di Sungai Mariam Jadi Simbol Toleransi

MediasaranaKaltim.id, Kutai Kartanegara – Di tengah keberagaman masyarakat, nilai persatuan dan toleransi kembali mendapat ruang melalui penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-16 tingkat Kecamatan Anggana yang berlangsung di Desa Sungai Mariam.

Tidak sekadar menjadi ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an, MTQ tahun ini menghadirkan pesan kuat tentang kebersamaan. Hal itu terlihat dari konsep dekorasi utama kegiatan yang mengangkat nuansa Masjid Tionghoa sebagai simbol bahwa keberagaman budaya dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Masjid Ar-Riyadhah, Desa Sungai Mariam, tersebut berlangsung semarak dengan melibatkan delapan kafilah dari berbagai desa, yakni Sungai Mariam, Anggana, Kutai Lama, Tani Baru, Sidomulyo, Sepatin, Muara Pantuan, dan Handil Terusan.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta berkompetisi dalam berbagai cabang, mulai dari seni baca Al-Qur’an, hafalan Al-Qur’an, Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ), pildacil, kaligrafi, hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an dan hadis.
Kepala Desa Sungai Mariam sekaligus Ketua Panitia MTQ ke-16, Indra Lesmana, mengatakan kepercayaan sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi pemerintah desa dan masyarakat.

“Alhamdulillah, kami dipercaya menjadi tuan rumah MTQ tingkat Kecamatan Anggana. Ini menjadi kebanggaan bagi kami sekaligus amanah yang harus dijalankan bersama,” ujar Indra yang akrab disapa Olonk.

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan MTQ tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat yang secara aktif bergotong royong mempersiapkan berbagai kebutuhan kegiatan.

“Antusias masyarakat sangat luar biasa. Semua ikut terlibat, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Suasana kebersamaan dan nuansa religi sangat terasa,” katanya.

Mengangkat Pesan Toleransi Lewat Konsep Masjid Tionghoa

Salah satu daya tarik dalam pelaksanaan MTQ tahun ini adalah konsep dekorasi panggung yang mengusung arsitektur bernuansa Masjid Tionghoa.

Bagi panitia, konsep tersebut bukan hanya sekadar memperindah tampilan acara, tetapi juga menjadi pesan sosial tentang pentingnya menjaga keberagaman di tengah masyarakat.

Olonk menjelaskan, perpaduan unsur budaya dalam kegiatan keagamaan tersebut menggambarkan bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk membangun persatuan.

“Kami ingin menyampaikan nilai toleransi. Konsep Masjid Tionghoa ini menjadi simbol bahwa keberagaman budaya dapat diterima dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap pesan tersebut dapat terus menjadi pengingat bahwa masyarakat Kecamatan Anggana memiliki kekuatan besar melalui kebersamaan dan sikap saling menghargai.

Kolaborasi Masyarakat dan Mahasiswa KKN

Pelaksanaan MTQ ke-16 Kecamatan Anggana juga menjadi contoh kolaborasi berbagai pihak.

Selain pemerintah desa dan masyarakat, kegiatan ini turut mendapat dukungan dari perusahaan, pelaku usaha lokal, serta berbagai pihak yang ikut membantu kelancaran acara.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Mulawarman dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur yang tergabung dalam kelompok Amerta Mahakam turut mengambil peran dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Salah satu mahasiswa KKN, Muhammad Zul Haidir Daffari, mengatakan keterlibatan dalam kegiatan masyarakat menjadi pengalaman berharga selama menjalankan pengabdian di Desa Sungai Mariam.

“Sejak persiapan, kami membantu menyiapkan perlengkapan, berdiskusi mengenai teknis kegiatan, hingga menjalankan tugas masing-masing saat acara berlangsung,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru mengenai kuatnya budaya gotong royong masyarakat desa.

“Selama berada di Sungai Mariam, kami merasakan suasana kekeluargaan yang sangat kuat. Kami belajar berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan melihat bagaimana sebuah kegiatan besar dapat berjalan melalui kerja sama banyak pihak,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan seperti MTQ dapat terus menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan mahasiswa.
Bukan Sekadar Perlombaan, tetapi Pembinaan Generasi Qur’ani

Pemerintah Desa Sungai Mariam berharap MTQ ke-16 Kecamatan Anggana tidak hanya menjadi ajang mencari juara, tetapi juga menjadi sarana membangun generasi muda yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memperkuat nilai keagamaan, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka ruang bagi berkembangnya seni, kreativitas, dan budaya masyarakat.

“Kami berharap MTQ dapat terus dilaksanakan setiap tahun sehingga potensi anak-anak dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an semakin berkembang. Kami juga ingin seni dan kreativitas masyarakat, termasuk kegiatan budaya lainnya, terus tumbuh di Kecamatan Anggana,” kata Olonk.

Melalui perpaduan nilai religi, budaya, dan semangat gotong royong, MTQ ke-16 Kecamatan Anggana di Desa Sungai Mariam menjadi lebih dari sekadar kompetisi.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan, merawat toleransi, serta meneguhkan bahwa keberagaman adalah bagian dari kekuatan masyarakat.(AAY)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *